Melayani Birahi Sexs Pembantuku Yang Montok
Melayani Birahi Sexs Pembantuku Yang Montok
Agen Bandar Q - Den
Diko, tolong Mbak Narti bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil
menyeringai mungkin menahan sakit. “Mbak tadi tergelincir”, sambungnya.
Aku hanya mengangguk sambil mengambil kain yang berserakan lalu sebelah
tanganku coba membantu Mbak Narti berdiri
Sebentar
Mbak. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya
memegang kain yang berada di tangan Mbak Narti. Aku bergegas masuk ke
dalam rumah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak Narti.
Ketika aku menghampiri Mbak Narti lagi, dia sudah separuh berdiri dan
mencoba berjalan terhuyung-huyung. Hujan semakin lebat seakan dicurahkan
semuanya dari langit.
Aku menuntun Mbak Narti masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi.
Dadaku berdetak kencang ketika tanganku tersentuh buah dada Mbak Narti.
Terasa kenyal sehingga membuat darah mudaku tersirap naik. Kuakui walau
dalam umur awal 30-an ini Mbak Narti tidak kalah menariknya jika
dibandingkan dengan kakak iparku yang berusia 25 tahun. Kulitnya kuning
langsat dengan potongan badannya yang masih menarik perhatian lelaki.
Tidak heran, pernah Mbak Narti kepergok oleh abangku bermesraan dengan
laki-laki lain.
“Tolong ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Narti ketika aku masih
termangu-mangu.Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan
kuberikan kepadanya. “Terima kasih Den Diko”, katanya dan aku cuma
mengangguk-angguk saja.
Kasihan Mbak Narti, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Suaranya
halus dan lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia
tidak tersenyum. Rajin dan tidak pernah sombong atau membantah.
Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Tak pernah
ada yang menyuruhnya karena dia tahu tanggung jawabnya.
Kadang-kadang saya memberinya sedikit uang, bila saya datang ke sana.
Bukan karena apa, sebab dia mempunyai sifat yang bisa membuat orang
sayang kepadanya. Abangku tidak pernah memarahinya. Gajinya setiap bulan
disimpan di bank. Pakaiannya dibelikan oleh kakak iparku hampir setiap
bulan. Memang dia cantik, dan tak tahu apa sebabnya hingga suaminya
menceraikannya. Kabarnya dia benci karena suaminya selingkuh. Hampir kurang lebih 4 tahun lebih dia menjanda setelah menikah hanya 6 bulan. Sekarang dia baru berusia 29 tahun, masih muda.
Kalau masalah kecantikan, memang kulitnya putih. Dia keturunan Cina.
Rambutnya mengurai lurus hingga ke pinggang. Dibandingkan dengan kakak
iparku, masing-masing ada kelebihannya. Kelebihan Mbak Narti ialah
sikapnya kepada semua orang. Budi bahasanya halus dan sopan.
Mbak Narti berdiri lalu mencoba berjalan menuju ke kamar mandi. Melihat
keadaannya masih terhuyung-huyung, dengan cepat kupegang tangannya untuk
membantu. Sebelah tanganku memegang pinggang Mbak Narti. Kutuntun
menuju ke pintu kamar mandi. Terasa sayang untuk kulepaskan peganganku,
sebelah lagi tanganku melekat di pinggangnya.
Mbak Narti menghadap ke diriku saat kutatap wajahnya. Mata kami saling
bertatapan. Kulihat Mbak Narti sepertinya senang dan menyukai apa yang
kulakukan. Tanganku jadi lebih berani mengusap-usap lengannya lalu ke
dadanya. Kuusap dadanya yang kenyal menegang dengan puting yang mulai
mengeras. Kudekatkan mulutku untuk mencium pipinya. Dia berpaling
menyamping, lalu kutarik lagi pipinya. Mulut kamipun bertemu. Aku
mencium bibirnya. Inilah pertama kalinya aku melakukannya kepada seorang
wanita.
Erangan halus keluar dari mulut Mbak Narti. Ketika kedua tanganku
meremas punggungnya dan lidahku mulai menjalari leher Mbak Narti. Ini
semua akibat film BF dari CD-Rom yang sering kutonton dari rumah teman.
Mbak Narti bersandar ke dinding, tetapi tidak meronta. Sementara
tanganku menyusup masuk ke dalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup.
Kuhisap dan kugelitik langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan.
Tanganku bergerak bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang
dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami
masih berdiri bersandar di dinding.
Kami terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu. Aku merasa tubuh
Mbak Narti menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Mbak
Narti kubuka. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap
wajahnya. Matanya terpejam. Daging kenyal yang selama ini terbungkus
rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan.
Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Kuhisap puting
yang mengeras itu hingga memerah. Mbak Narti semakin gelisah dan
nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik
rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yang membusung.
Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”.
Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit
perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya. Lidahku kini
bermain di pusar Mbak Narti, sambil tanganku mulai mengusap-usap
pahanya. Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak Narti semakin
kuat menarik rambutku.
“Den Dikooo…, Den Diko”, suara Mbak Narti memanggilku perlahan. Aku
terus melakukan usapanku. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya
kutarik ke bawah. Tanganku mulai menyentuh daerah kemaluannya. Rambut
halus di sekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan.
Ketika lidahku baru menyentuh kemaluannya, Mbak Narti menarikku berdiri.
Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu. Pandangannya
ditujukan ke tempat tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Narti
seraya menuntun Mbak Narti menuju tempat tidur. Bau kemaluannya
merangsang sekali. Dengan satu bau khas yang sukar diceritakan.
“Den Dikooo…”, bisiknya perlahan di telingaku. Aku terdiam sambil
mengikuti apa yang kuinginkan. Mbak Narti sepertinya membiarkan saja.
Kami benar-benar tenggelam. Mbak Narti kini kutelanjangkan. Tubuhnya
berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya
cukup menggiurkan. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam.
Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta
disentuh.
Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya
mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak
seperti perut wanita yang telah melahirkan. Memang Mbak Narti tidak
memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan. Kakinya
merapat. Karena itu aku tidak dapat melihat seluruh kemaluannya. Cuma
sekumpulan rambut yang lebat halus menghiasi bagian bawah.
Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu.
ritsluiting jeans-ku kuturunkan. Aku telanjang bulat di hadapan Mbak
Narti. Penisku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Narti.
Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan
putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya. Mbak
Narti telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik.
Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Narti.
Sungguh lembut tubuh mungil Mbak Narti. Kupeluk dengan gemas sambil
kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil
memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu.
Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku
menyentuh pinggang Mbak Narti. Kudekatkan penisku ke tangan Mbak Narti.
Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya.
Memang Mbak Narti tahu apa yang harus dilakukan. Maklumlah dia pernah
menikah. Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film
BF, itu saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah
selangkangannya. Terasa berlendir basah di kemaluannya.
Lalu dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam
mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Mbak Narti melumat kepala
penisku dengan lembut. Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk
dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Mbak Narti terasa
menarik-narik batang penisku. Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu
mengerang menahan nikmat.
Kubuka lebar-lebar paha Mbak Narti sambil mencari liang vaginanya.
Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil
memegang clitorisnya. Mbak Narti mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku.
Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Mbak Narti semakin memerah. Bau
kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat
air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya. Tentu Mbak Narti sudah
cukup terangsang, pikirku.
Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama.
Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Mbak Narti memperbaiki posisinya
ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya. Kedua Kaki Mbak
Narti mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku
mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Mbak
Narti terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.
Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Mbak Narti semakin membuka
pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Mbak Narti sudah tidak
bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku
sibuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan kenikmatan baginya.
Erangan Mbak Narti semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah.
Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Aku
bertanya, “Gimana Mbak rasanya?”, suaraku lembut dan sedikit manja. Dia
tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas
panjang. Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku
mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya yang kini telah terbuka
lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya.
Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu.
Perlahan-lahan kutekan ke dalam. Tekanan penisku memang agak sedikit
susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Narti menggelinjang seperti kesakitan




Tidak ada komentar