Cerita Seks Dengan Guru Mesum Yang Montok
Cerita Seks Dengan Guru Mesum Yang Montok
AgenLendir98 - Teman-teman
biasa memanggilku Lukman. Aku tinggal di Bogor. Tinggiku sekitar 167
cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman
perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku
‘making love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya
waktu aku masih kelas dua SMA .
Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru
dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas
tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Elvina, umurnya
masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm.
Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan
rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga
memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya
yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia
berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang
tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak,
dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku
berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil
menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan
kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.
Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil
memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah
selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana
dalam berbahan katun berwarna putih.
Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang
dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada
teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil
tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian
dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Elvina, dia masih
memandangku sambil tersenyum nakal.
Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku
teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan
sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Elvina yang masih setia
menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa,
sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah.
Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan
berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu
Elvina. “Sudah selasai?” katanya sambil tersenyum. “Sudah, bu….” jawabku
sambil membalas senyumnya. “Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?” dia
bertanya mengagetkanku.
Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan
berbisik-bisik. “Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?” kataku
memberanikan diri, masih dengan berbisik. “Kita ketemu nanti di depan
sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” katanya sambil tersenyum
simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas
dingin.
Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu
Elvina mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Lukman, kamu ikuti saya
dari belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan
pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah
dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia
berhenti, menungguku sampai di sampingnya.
Kami berjalan beriringan. “Kamu benar-benar ingin melihat lagi?”
tanyanya memecah kesunyian. “Lihat apa bu?” jawabku berpura-pura lupa,
pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. “Ah, kamu, suka
pura-pura…” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha
menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus
dan meremasnya dengan gemas. bu Elvina balas meremas tanganku, sambil
memandangiku lekat-lekat.
Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari
rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat
tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Elvina membuka tasnya,
mengeluarkan kunci dan membuka pintu. “Lukman, masuklah. Lepas sepatumu
di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!” Perintahnya cepat. Aku
turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam
rumah, bu Elvina menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa
menutup pintunya.
Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing
bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan
katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti
tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin
sexy, kemudian dia memanggilku. “Lukman, tolong dong, lepasin
pengaitnya…” katanya sambil membelakangiku.
Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati
berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil
sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan
posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus
tubuhnya yang wangi.
Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta
dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan
yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku
berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA
ku.
Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi
kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka
risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga
posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan
sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya,
tanganku meraba pantat bu Elvina dan sedikit meremasnya, gemas.
“Udah nggak sabar ya, Lukman?” Kata bu Elvina.
“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….”
“Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?”
“Iya bu, eh, teh Elvina”
Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu
Elvina dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya
mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup,
karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi
aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di
selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan
ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.
“Gimana Lukman, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.
“Kok kamu jadi bengong, Lukman?” Lanjutnya sambil menghampiriku.
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan
mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak
lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan
rakusnya, aku balas lumatannya.
“Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak
lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun
tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya,
kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang
mulai mengeras. “Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh” Kali ini dia merintih nikmat.
Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup
oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya
yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku
ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa
menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya.
Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami,
berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian,
kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang
lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.
Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku,
kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang
abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Elvina pun melakukan
hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang
baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam
putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat.
Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir
bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku
menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku
terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering
melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru
kali itu aku mengalaminya.
Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi
telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu,
tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya
rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya
ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu
yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya
yang mengkilap karena basah.
Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari
gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku
yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan
cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak
berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.
Sementara bu Elvina memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan
mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu
yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya
belasan centi. “Lukman, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada
bulunya lagi di batangnya” katanya sambil menghampiriku.
Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih
kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil
mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah
dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu.
“Oooohhhh…. enak teh….” rintihku pelan. Dia semakin bersemangat
dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku
semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya
kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan,
sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap
dengan rakus.
Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku.
Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia
telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai,
memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada
waktu aku masturbasi.
“Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!” Teriakku tak tertahankan lagi.
“Gimana? enak Lukman?” Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku.
“Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas.
“Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh” lanjutku sedikit memohon.
“Boleh…,” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan
dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.
Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan
bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan
kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras.
Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku
menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah.
Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan
bibirku.
“Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Luuukmannnn…, aku sudah tidak tahan,
aaaaauuuuuhhhhhh!” Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit
kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat
tersebut.
Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak
terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya
mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku
hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes
demi tetes.
Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit
kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih
lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas.
Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini
meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.
“Lukman, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini,
belajar darimana?” Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku
memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan
internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena
terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Elvina. Akupun
berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih
berkedut dan tampak basah serta licin itu.
“Aku masukin ya teh?” Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.
“Oooohhhh…” rintihnya,
“Aaaahhhh…” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika
kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku.
Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk
seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke
pangkalnya. Bu Elvina merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku
yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya,
matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai
tersenggal-senggal.
“Ahh-ahh-ahh auuuu!” Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai
kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya
selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku
menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin
cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting
payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila,
kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap
puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.
Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan
kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai
akhirnya, “Luuuukmannnn…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh…
aaahhhhh” teriakannya semakin kacau.
Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan
sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku.
Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku
pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum
itu. Bu Elvina sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku.
Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul,
aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu
beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya
menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam
dalam permainan yang panas.
Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan
seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat
gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan.
Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking
lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan
diriku berbaring di sebelahnya.
Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi,
tapi kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa
dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya,
yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya,
katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho).
Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan.




Tidak ada komentar